Awal Perjuangan & Cobaan Utang
Kisah perjuangan Bu Tuti dimulai dari selembar uang dua puluh ribu, yang diberikan oleh seorang tetangganya untuk dijadikan modal awal usaha. Saat itu suaminya yang seorang kuli angkut pasir sedang terbaring lemah karena menderita sakit tipes. Berbekal uang tersebut, sebuah meja, termos, dan beberapa buah gelas plastik, Bu Tuti menjual kopi dan teh di sebuah tempat pengurukan pasir yang sering disebut Pangkalan Pasir. Ternyata dagangannya mendapat sambutan yang baik. Keesokan harinya, selain menjual kopi dan teh, ia juga mengambil dagangan dari tetangga berupa gorengan.
Kegigihannya mengetuk hati seseorang yang juga memiliki usaha di daerah Pangkalan Pasir. Ia membuatkan warung tenda untuk Bu Tuti agar bisa berjualan dengan nyaman. Cobaan datang ketika ia sedang hamil tua dan suaminya kembali sakit. Saat ditunjuk sebagai penanggung jawab tabungan harian, ia terpaksa menggunakan uang tersebut hingga terlilit utang sejumlah Rp 3.700.000. Setelah sepuluh bulan penuh tekanan, akhirnya ia bisa melepaskan diri dari jeratan utang.
Mendapat pencerahan melalui persiapan kelompok
Di saat kesulitan mencari modal usaha, pertolongan datang dari Koperasi Kasih Indonesia melalui Ibu Yus dan Ibu Lucy. KKI memberikan kesempatan pada Bu Tuti untuk bergabung. Pengarahan Persiapan Kelompok Satu (PK I) membuka pikirannya dan memberi keyakinan baru bahwa mimpi-mimpinya bisa terwujud.
Pinjaman awal sebesar Rp 500.000 digunakannya untuk menambah barang jualan serta usaha nasi dan lauk.
Bangkit mengejar impian
Usahanya terus berkembang. Pinjaman berikutnya ia gunakan untuk membeli etalase, barang elektronik kreditan, hingga akhirnya bisa membeli televisi dan mesin cuci dari hasil mengelola keuangan dengan baik. Meski sempat digusur pada pertengahan 2014, ia mampu memindahkan warungnya ke depan rumah berbekal tabungan di KKI.
Penuh syukur menjadi anggota Koperasi Kasih Indonesia
Pada tahun 2013, anaknya terpilih mendapatkan beasiswa CIMB Niaga-KKI selama 3 tahun di SMK. Bu Tuti sangat bersyukur karena KKI telah mengubah pola pikirnya menjadi lebih bersemangat, hemat, dan mampu mendidik anak-anaknya untuk terus berniat kuliah sambil bekerja.
SEMANGAT SELALU, Ibu Tuti!